Minggu, 25 Februari 2018

Resensi Red Queen



Red Queen
Cerita yang ditulis oleh Victoria Aveyard ini menyinggung banyak persoalan yang secara dimensi waktu itu merupakan permasalahan-permasalahan krusial di dunia nyata. Realitas yang dibalut oleh rajutan khayali. Kekejian dalam politik, mannipulasi media, kontras antara kemelaratan dan kemewahan, dilema pemecahan masalah, serta hal-hal lainnya telah menjadi rangkaian lego yang tersusun menjadi sebuah robot cerita.
The story written by Victoria Aveyard talk about many things which by time dimension is big problems in the real world till now. The reallity is wrapped by fanciful knit. Despicable in politic, media manipulation, contrast between poorness and sumtuousness, dilemma of problem solving and anything else have been a lego structure arranged becoming a story robot.
                Novel pertama dari karya trilogi tersebut menyajikan rentetan masalah ketika dalam suatu negeri terdapat ketidakadilan. Para pemangku jabatan di pemerintahan – dalam hal ini kerajaan – malah sibuk mengutamakan kekuatan negeri atas bangsa-bangsa lain. Ketidakadilan bagi Mare Barrow dan warga seklannya, bagi Cal dan sederetan pemangku kekaisaran merupakan pion-pion yang patut dikorbankan demi kemakmuran dan pertahanan negeri.
                This book is the first novel of trilogy which present problem sequence when in a land there’s an injustice.
                Sebagai gadis bodoh yang menggantungkan hidupnya dengan cara mencopet, secara tak sengaja Mare harus terlibat dengan internal kerajaan. Berawal dari pertemuannya dengan Cal – sang pangeran yang tengah berkeliling – yang menjadi korban aksi copetnya yang gagal, Mare akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kerja sebagai pelayan di kerajaan. Peluang yang didapatnya tak lepas dari campur tangan Cal. Dengan begitu, Mare bebas dari tuntutan militer untuk ikut dalam barisan perang.
                Sebuah kecelakaan yang hampir merenggut hidupnya telah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, tentu saja tanpa pernah disadari oleh dirinya sendiri. Kecelakaan itu terjadi ketika ajang pemilihan ratu. Mare sebagai pelayan terkena bola kulit kuning ketika Evangeline menunjukkan kemampuannya. Mare hampir saja tewas sebelum tiba-tiba dari dirinya memercik api, menjadi perisai listrik yang menyelamatkannya.
                Mare merupakan kaum Merah. Kaum Merah adalah kaum inferior yang pada umumnya tak memiliki kekuatan sebagaimana kaum Perak. Mare kemudian menjadi seorang putri yang akan dinikahkan dengan pangeran Maven. Sedangkan pangeran Cal akan dinikahkan dengan putri Evangeline. Identitas Mare Barrow diubah oleh kerajaan menjadi Lady Mareena Titanos, seorang Perak. Itu adalah upaya politis kerajaan untuk menggunakan Mare sebagai pion yang akan menghentikan pemberontakan Barisan Merah. Mare tak punya pilihan lain selain menerima itu semua demi keselamatan keluarganya.
                Cal banyak membantu Mare dalam banyak hal, bahkan menyelamatkan. Cal sebenarnya sering berkeliling ke daerah-daerah kekuasaan dalam penyamaran sebagai orang biasa, seperti pada saat Mare gagal mencopetnya. Dia tahu banyak kesengsaraan kaum Merah. Tapi, Cal
                Mare kemudian diam-diam bergabung dengan Barisan Merah untuk ikut memberontak. Posisinya di dalam kerajaan menjadi keuntungan untuk pergerakan. Tanpa disangka, Maven ikut serta ke dalam Barisan Merah. Maven menunjukkan bahwa dia punya cara pandang sendiri yang berbeda dengan keluarga kerajaan dan memihak kaum Merah. Bagi Maven, apa yang dijalankan oleh kerajaan itu pilihan yang salah karena menindas kaum Merah.
                Dalam pergerakannya, Mare dibantu oleh Julian. Julian adalah . Dia merupakan seorang ilmuwan yang selalu penasaran akan banyak hal, salah satunya Mare. Selagi membantu Mare dalam memahami dirinya yang sebenarnya, Julian juga mengamati sejarah Mare juga keahliannya.
                Julian menemukan bahwa Mare berbeda berbeda dari kaum Merah maupun Perak. Mare memiliki kekuatan bukan hanya kekuatan untuk memanipulasi energi di luar dirinya, tetapi juga kekuatan untuk menghasilkan energi dari dalam dirinya sendiri. Kekuatan kaum Perak adalah sebatas kemampuan untuk memanipulasi energi di luar diri mereka.
Julian juga menemukan fakta bahwa Mare bukan satu-satunya yang memiliki kekuatan tersebut. Kenyataannya, keberadaan orang-orang seperti Mare yang sudah diketahui oleh kerajaan telah dibunuh dengan keterangan yang ganjil. Salah satunya adalah Shade, kakaknya Mare. Julian memberikan daftar nama-nama manusia seperti Mare untuk segera ditemukan sebelum didahului kaum Perak.
Mengingat menanti pengumpulan orang-orang sejenis Mare membutuhkan waktu yang lama, strategi kudeta segera dibentuk oleh Barisan Merah. Maven menjadi pengusung ide besar dalam merangkai strategi. Lewat pemaknaan atas sikap Cal yang beberapa kali membantu dan menyelamatkan Mare, Maven meyakinkan bahwa Cal akan selalu memilih Mare, mengutamakan Mare daripada apapun. Akhirnnya semua anggota Barisan Merah teryakinkan.
Petaka seketika terjadi ketika aksi berlangsung. Cal enggan menyokong Barisan Merah. Alih-alih Barisan Merah mendapatkan tambahan pasukan dari legiun yang dikomandani Cal, mereka malah ditangkap oleh legiun atas komando Cal. Cal tidak mengkhianati ayahnya.
Petaka berikutnya, terungkap bahwa semua yang terjadi adalah tipu muslihat Maven dan ibunya. Sedari awal, Maven memang berniat menyingkirkan Barisan Merah dan menyingkirkan kekuasaan Tiberias dan anaknya. Bergabungnya dia ke dalam Barisan Merah hanya strategi keji politiknya. Setiap insiden yang terjadi sebelumnya yang menguntungkan Barisan Merah juga merupakan bagian dari tipu muslihat Maven dan Ibunya.
Elara membisik ke dalam diri Cal, sehingga dia mengendalikan Cal untuk membunuh ayahnya. Seketika sang raja mati, kamera-kamera menyorot ruangan itu. Sang ratu dan anaknya bersandiwara dengan menangis. Teriakan Maven bahwa Cal telah membunuh sang raja menjadi penjelas fiktif kejinya.