Cerita yang
ditulis oleh Victoria Aveyard ini menyinggung banyak persoalan yang secara
dimensi waktu itu merupakan permasalahan-permasalahan krusial di dunia nyata.
Realitas yang dibalut oleh rajutan khayali. Kekejian dalam politik, mannipulasi
media, kontras antara kemelaratan dan kemewahan, dilema pemecahan masalah,
serta hal-hal lainnya telah menjadi rangkaian lego yang tersusun menjadi sebuah
robot cerita.
The story
written by Victoria Aveyard talk about many things which by time dimension is
big problems in the real world till now. The reallity is wrapped by fanciful
knit. Despicable in politic, media manipulation, contrast between poorness and
sumtuousness, dilemma of problem solving and anything else have been a lego
structure arranged becoming a story robot.
Novel
pertama dari karya trilogi tersebut menyajikan rentetan masalah ketika dalam
suatu negeri terdapat ketidakadilan. Para pemangku jabatan di pemerintahan –
dalam hal ini kerajaan – malah sibuk mengutamakan kekuatan negeri atas bangsa-bangsa
lain. Ketidakadilan bagi Mare Barrow dan warga seklannya, bagi Cal dan
sederetan pemangku kekaisaran merupakan pion-pion yang patut dikorbankan demi
kemakmuran dan pertahanan negeri.
This
book is the first novel of trilogy which present problem sequence when in a
land there’s an injustice.
Sebagai
gadis bodoh yang menggantungkan hidupnya dengan cara mencopet, secara tak
sengaja Mare harus terlibat dengan internal kerajaan. Berawal dari pertemuannya
dengan Cal – sang pangeran yang tengah berkeliling – yang menjadi korban aksi
copetnya yang gagal, Mare akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kerja sebagai
pelayan di kerajaan. Peluang yang didapatnya tak lepas dari campur tangan Cal.
Dengan begitu, Mare bebas dari tuntutan militer untuk ikut dalam barisan
perang.
Sebuah
kecelakaan yang hampir merenggut hidupnya telah menunjukkan siapa dirinya yang
sebenarnya, tentu saja tanpa pernah disadari oleh dirinya sendiri. Kecelakaan
itu terjadi ketika ajang pemilihan ratu. Mare sebagai pelayan terkena bola kulit
kuning ketika Evangeline menunjukkan kemampuannya. Mare hampir saja tewas
sebelum tiba-tiba dari dirinya memercik api, menjadi perisai listrik yang
menyelamatkannya.
Mare
merupakan kaum Merah. Kaum Merah adalah kaum inferior yang pada umumnya tak memiliki
kekuatan sebagaimana kaum Perak. Mare kemudian menjadi seorang putri yang akan
dinikahkan dengan pangeran Maven. Sedangkan pangeran Cal akan dinikahkan dengan
putri Evangeline. Identitas Mare Barrow diubah oleh kerajaan menjadi Lady
Mareena Titanos, seorang Perak. Itu adalah upaya politis kerajaan untuk
menggunakan Mare sebagai pion yang akan menghentikan pemberontakan Barisan
Merah. Mare tak punya pilihan lain selain menerima itu semua demi keselamatan
keluarganya.
Cal
banyak membantu Mare dalam banyak hal, bahkan menyelamatkan. Cal sebenarnya
sering berkeliling ke daerah-daerah kekuasaan dalam penyamaran sebagai orang
biasa, seperti pada saat Mare gagal mencopetnya. Dia tahu banyak kesengsaraan
kaum Merah. Tapi, Cal
Mare
kemudian diam-diam bergabung dengan Barisan Merah untuk ikut memberontak.
Posisinya di dalam kerajaan menjadi keuntungan untuk pergerakan. Tanpa
disangka, Maven ikut serta ke dalam Barisan Merah. Maven menunjukkan bahwa dia
punya cara pandang sendiri yang berbeda dengan keluarga kerajaan dan memihak
kaum Merah. Bagi Maven, apa yang dijalankan oleh kerajaan itu pilihan yang
salah karena menindas kaum Merah.
Dalam
pergerakannya, Mare dibantu oleh Julian. Julian adalah . Dia merupakan seorang
ilmuwan yang selalu penasaran akan banyak hal, salah satunya Mare. Selagi
membantu Mare dalam memahami dirinya yang sebenarnya, Julian juga mengamati
sejarah Mare juga keahliannya.
Julian
menemukan bahwa Mare berbeda berbeda dari kaum Merah maupun Perak. Mare
memiliki kekuatan bukan hanya kekuatan untuk memanipulasi energi di luar
dirinya, tetapi juga kekuatan untuk menghasilkan energi dari dalam dirinya
sendiri. Kekuatan kaum Perak adalah sebatas kemampuan untuk memanipulasi energi
di luar diri mereka.
Julian juga
menemukan fakta bahwa Mare bukan satu-satunya yang memiliki kekuatan tersebut.
Kenyataannya, keberadaan orang-orang seperti Mare yang sudah diketahui oleh
kerajaan telah dibunuh dengan keterangan yang ganjil. Salah satunya adalah
Shade, kakaknya Mare. Julian memberikan daftar nama-nama manusia seperti Mare
untuk segera ditemukan sebelum didahului kaum Perak.
Mengingat
menanti pengumpulan orang-orang sejenis Mare membutuhkan waktu yang lama,
strategi kudeta segera dibentuk oleh Barisan Merah. Maven menjadi pengusung ide
besar dalam merangkai strategi. Lewat pemaknaan atas sikap Cal yang beberapa
kali membantu dan menyelamatkan Mare, Maven meyakinkan bahwa Cal akan selalu
memilih Mare, mengutamakan Mare daripada apapun. Akhirnnya semua anggota
Barisan Merah teryakinkan.
Petaka
seketika terjadi ketika aksi berlangsung. Cal enggan menyokong Barisan Merah.
Alih-alih Barisan Merah mendapatkan tambahan pasukan dari legiun yang
dikomandani Cal, mereka malah ditangkap oleh legiun atas komando Cal. Cal tidak
mengkhianati ayahnya.
Petaka
berikutnya, terungkap bahwa semua yang terjadi adalah tipu muslihat Maven dan
ibunya. Sedari awal, Maven memang berniat menyingkirkan Barisan Merah dan
menyingkirkan kekuasaan Tiberias dan anaknya. Bergabungnya dia ke dalam Barisan
Merah hanya strategi keji politiknya. Setiap insiden yang terjadi sebelumnya
yang menguntungkan Barisan Merah juga merupakan bagian dari tipu muslihat Maven
dan Ibunya.
Elara membisik
ke dalam diri Cal, sehingga dia mengendalikan Cal untuk membunuh ayahnya.
Seketika sang raja mati, kamera-kamera menyorot ruangan itu. Sang ratu dan
anaknya bersandiwara dengan menangis. Teriakan Maven bahwa Cal telah membunuh
sang raja menjadi penjelas fiktif kejinya.
